Posisi Menentukan Ongkos Kirim
Jika dari sisi pembeli ongkos kirim ini adalah biaya yang tak terlihat, seringkali membuat transaksi yang hampir deal dibatalkan. Misalnya action figure transformer seharga 425 ribu sudah dinego dan hampir deal di 400 ribu, tapi ternyata ongkos kirim dari Sumatera ke Jawa sampai di kota pembeli perlu 30 ribu. Sedangkan budget maksimal pembeli hanya di angkat 400 ribu. Sedangkan penjual sudah mengurangi keuntungan 25 ribu. Jika sudah begini, maka kebutuhan pembeli dan penjual tidak bertemu. Dan deal pun batal. Tidak ada yang dirugikan memang, tetapi proses negosiasi mungkin bisa lebih baik jika sebelumnya penjual mencantumkan posisinya.Dari sisi penjual, ongkos kirim juga bisa jadi biaya tak terlihat yang mengurangi laba. Saya pernah mengalaminya, ketitka itu pembeli tidak mau memberikan alamat lengkapnya. Dan saya sebagai penjual berasumsi bahwa dia berada di kota besar atau minimal ada di level kecamatan. Tetapi setelah berada di agen JNE langganan, ternyata alamat lengkap pembeli berada di daerah. Dan tarifnya tentu lebih besar daripada uang yang sudah dia transfer ke saya. Tapi mau bagaimana lagi, harga sudah deal. Dan waktu itu keuntungan masih bisa menutupi ongkos kirim, jadi tak apa lah. Hanya saja saya mencatat kejadian ini, agar tak terulang lagi.
Dari sisi penjual, tak jarang juga yang terkesan menaikkan ongkos kirim karena khawatir nombok. Tetapi ini tentu saja akan menurunkan kepercayaan calon pembeli. Karena biasanya calon pembeli juga sebenarnya melihat sendiri tarif JNE dari internet. Jadi jangan coba-coba melakukan mark up ongkos kirim, tanpa alasan yang jelas. Kalau terpaksa, sebaiknya jelaskan dari awal. Tetapi saya yang menggunakan kardus sendiri dengan printing/sablon untuk branding lebih memilih menambahkan elemen biaya tambahan untuk packing ini ke harga barang. Karena harga barang bisa fluktuatif, sedangkan tarif JNE semua orang tahu dari internet.
Hati-hati dengan Volume Barang Setelah Packing
Sebagai penjual saya sering kena masalah ini. Volume barang yang saya packing ternyata bisa lebih dari perkiraan. Sedangkan pembeli sudah mentransfer uangnya sesuai yang saya minta. Saya menghitung ongkos kirim kena 2 kg tetapi ternyata dari volume barang kena 3 kg. Lumayan mengurangi laba.Dalam hal ini, saya sedikit terbantu setelah memiliki kardus yang standar. Jadi saya tak perlu repot-repot mengukur setiap kali packing. Tapi tentu saja hal ini membutuhkan biaya tambahan. Tetapi jika kita masukkan ke komponen harga barang, saya yakin pembeli tak keberatan untuk membayar lebih untuk servis yang lebih baik. Tapi sejujurnya, mereka biasanya tak pernah tahu tentang biaya tambahan 3000-5000 ini. Tetapi di mata pembeli hanya ada 2 komponen harga, harga barang dan ongkos kirim.
Terbuka dengan Pembeli
Sedikit saran dari saya. Terbukalah dengan pembeli. Dalam hal apapun terkait dengan transaksi sejak proses nego, deal hingga selesainya transaksi (barang sampai di tangan pelanggan). Pembaca boleh menganggap transaksi selesai setelah kita mengirim resi bukti pengiriman. Tetapi perlu diingat jika terjadi sesuatu dengan barang, kita sebagai penjual pasti akan dikomplain karena bagi pembeli proses transaksi selesai jika barang sudah di tangan. Meski tak jarang barang sampai tidak sesuai deskripsi dan kesalahan dari pihak ekspedisi sehingga barang rusak di tengah perjalanan, tak jarang pula persepsi dan deskripsi dari penjual yang kurang terbuka penyebabnya. Jadi foto sebelum barang dipacking, foto packing dan semacamnya itu bisa sedikit membantu jika terjadi perselisihan setelah barang diterima. Jadilah mata bagi pembeli sampai barang di tangan mereka. Dan jika sempat, pembeli akan sangat senang ketika kita menanyakan apakah barang sudah sampai dengan selamat.Singkatnya, berpikirlah sebagai pembeli ketika kita menjual online. Dan perhatian mereka pun akan kita dapatkan. Barang bisa rusak termakan waktu, tetapi servis kita sebagai penjual akan selalu mereka ingat. Sudah siap berdagang lagi? Selamat berwirausaha...

No comments