Select Menu

Ads

Copyright Tajirwannabe.tk 2016. Powered by Blogger.

Wirausaha

Hobi

Circle Gallery

Indonesiana

Islami

Family Time

Video

» » Membidik Pasar Komunitas Hobi

Komunitas hobi termasuk pasar yang sangat cepat menyerap hampir semua produk yang kita tawarkan. Sangat mudah memang untuk menjual di audiens yang sangat tertarget. Membidik pasar komunitas hobi tentu bisa jadi salah satu strategi yang bisa digunakan untuk mendobrak batas angka penjualan. Saya sudah membuktikannya sendiri, bulan kedua setelah mencoba menjual action figure transformer dengan cara dropship, lonjakan omzet penjualan bisa hingga sampai 4 kali lipat.

Di Indonesia, dunia transformers ternyata ada dua komunitas besar. Sebagian besar anggotanya sebenarnya ya orang yang sama. Hanya saja salah satu komunitas memang lebih mengkhususkan, jadi seolah jadi beda aliran. Komunitas transformers terbesar tentu TFI (Transformers Group Indonesia), lalu ada Transformers Community Movie Line (TF-C). Keduanya memiliki marketplace dengan aturannya masing-masing. Tapi di samping kedua group besar itu, masih ada komunitas lain yang berdasarkan tempat. Salah satunya TF-Cube (Bekasi), yang mewadahi hobiis sekitar Bekasi.

Meningkatkan penjualan dan meningkatkan reputasi di komunitas ternyata lain soal. Bisa menjual banyak di bulan pertama, juga tidak menjamin di bulan berikutnya penjualan akan stabil. Pasar komunitas hobi ini memang tidak perlu di edukasi, tinggal pasang gambar dan nomor kontak, hanya dalam hitungan jam barang dagangan bisa laku terjual. Itu kalau barang yang anda jual lain dari yang lain atau barang langka yang sudah lama tak terlihat di peredaran. Banyaknya transaksi, bisa meningkatkan reputasi tapi sekali anda tersandung masalah, semua orang akan lupa reputasi anda.

Soal reputasi, saya merasakan bagaimana sulitnya membangun reputasi di pasar komunitas hobi ini. Sok akrab untuk menekan harga, negosiasi alot dan berakhir buntu, janji COD yang tanpa kejelasan atau model PHP (harapan palsu) lainnya atau bahkan penolakan dingin ketika sebagai seller saya terlambat memutuskan deal. Soal komplain dari pembeli, pernah juga saya alami. Tapi ketika itu untungnya saya belum masuk ke komunitas hobi ini.

Di komunitas hobi ini, reputasi sangat dijunjung tinggi. Perilaku tak sopan ketika berperan sebagai buyer, akan mendapat balasan ketika berganti peran jadi seller. Dan satu hal yang pasti, informasi tentang seseorang terutama reputasi jeleknya, sangat cepat sekali beredar. Ini memang salah satu cara komunitas ini melindungi anggotanya. Jika ada salah satu anggota yang berlaku curang, maka hampir bisa dipastikan semua orang akan mencatat. Meski kasus dianggap selesai karena kedua pihak menganggap selesai, reputasi yang hancur akan sangat sulit untuk dibangun. Simpelnya, orang tak akan lagi membeli dari anda, jika anda pernah mengalami kasus.

Menjual barang KO (knock off atau non original) juga sama. Saya menjual barang original dengan kondisi baru, tapi nyaris tak ada yang percaya. Kalaupun ada yang berani mencoba membeli, tapi dengan harga nego yang cukup sadis. Pernah saya melepas barang dengan keuntungan hanya 17 ribu rupiah. Bukan angka yang besar, jika modalnya saja hampir 400 ribu. Tapi saya lepas juga, toh saya butuh uang untuk memutar barang dagangan. Dan buyer itu terlihat gigih dan bener-benar menginginkannya.

Meski sangat cepat menyerap semua jenis dagangan. Perlu diketahui, sepertinya kelesuan dalam hal finansial juga sangat terasa di komunitas ini. Karena itulah saya di awal mengatakan bahwa menjual di komunitas ini adalah salah satu strategi. Perlu strategi lain dan membuka peluang lain. Komunitas hobi seperti ini yang berbasis sosial media (facebook), biasanya rentan juga dengan kondisi politik. Karena saya pernah punya teman-teman yang sengaja menghilang dari facebook selama musim kampanye parpol dan capres kemarin. Jadi rame atau sepinya sosial media, sedikit banyak berpengaruh juga dengan komunitas ini. Mungkin saya yang terlalu naif, tapi saya pikir masuk akal. Karena orang online di sosial media untuk melepas kepenatan di dunia nyata, bukan sebaliknya.

Ah, ada yang saya lupa sampaikan. Salah satu kenapa menjual di komunitas ini sangat mudah adalah karena akun sosial media (dalam hal ini facebook) itu berfungsi sebagai identitasnya. Jadi orang lebih berani bertransaksi di sini. Meski bukan berarti transaksinya bebas dari potensi masalah. Karena kesalahan dan kesalahpahaman kerap terjadi baik dari penjual maupun pembeli. Tapi overall, lebih enak bertransaksi di facebook ketimbang di kaskus misalnya. Karena effort untuk cek dan ricek si seller jauh lebih mudah, bahkan bisa ditanyakan di komunitas tersebut.

Dua bulan terakhir penjualan sedang menurun. Ini sinyal bahwa saya harus mencari pasar lain dan menggarap sekecil apapun peluangnya. Jadi, bagaimana menurut anda? Apakah ada yang mungkin saya lewatkan?


About Unknown

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply