Ada yang cukup mengejutkan dari keponakanku yang di Jakarta. Anak ini yang masih pelajar kelas 2 SMA, setiap minggu sore memang rutin datang ke rumah untuk belajar komputer. Semua hal terkait komputer, dari office sampai blogging. Karena saya di keluarga memang dianggap paling tahu tentang komputer. Nah, di tengah-tengah obrolan dia bilang kalau dia sudah mencoba berjualan tas bali dengan temannya. Katanya hasil dari berjualan tas kain dari Bali lumayan. Temannya sudah punya beberapa kaos 'gratis' hasil dari berjualan tas bali itu.
Dia sendiri katanya sementara ini sudah mengantongi sekitar 120 ribu, bersih dari berjualan ke teman-temannya di sekolah. Sistem yang dia gunakan adalah dia menawarkan beberapa model tas Bali ke teman-temannya sampai terkumpul sampai 10 orang, harga tas yang 35 ribu dia jual jadi 40 ribu. Tapi karena sudah beberapa kali order, akhirnya memang diberi harga reseller sekitar 20-25 ribu. Lumayan untuk anak sekolah. Saat ini memang dia masih bekerjasama dengan temannya.
Sebenarnya harga ongkos kirim dari Bali ke Jakarta lumayan, tetapi karena diakali dengan cara mengumpulkan pesanan dulu, memang jatuhnya jadi lebih murah. Ini seringkali yang dilakukan oleh seller dengan sistem PO. Jadi seller mengumpulkan pembeli dulu, dan jika sudah terkumpul sejumlah kuota minimal yang diharapkan lalu uang yang terkumpul digunakan untuk melakukan pemesanan ke supplier. Supplier mengirim barang ke keponakan saya, dan barang segera diberikan ke masing-masing pembeli begitu sampai. Nah, uang selisih dari pemesanan tadi itulah keuntungan bersih yang didapat. Kelebihan sistem ini, ketika barang datang seller tak perlu bingung bagaimana melepas barang tersebut. Karena memang setiap barang sudah ada pemesannya. Tetapi bukan berarti tidak ada masalah, karena sistem seperti ini mengharuskan seller menjamin bisa mendapatkan barang yang dipesan. Jika tidak, bisa dibilang penipuan.
Soal kecilnya keuntungan yang didapat dari setiap transaksi oleh keponakan saya tadi, menurut saya tidak masalah sama sekali. Karena pengalaman yang dia dapat dari berjualan sangat besar. Dan terlebih lagi pengalaman berjualan 'tanpa modal' seperti ini tidak bisa dirasakan oleh semua orang. Kebanyakan orang berpikir mau berjualan apa, setelah itu dia berpikir dapat modal dari mana. Dan ternyata dengan cara mengumpulkan pesanan seperti ini, ongkos kirim mahal bisa diakali bahkan dengan mengumpulkan pesanan bisa membuat supplier merasa perlu menurunkan harga untuk membantu keponakan saya lebih bersemangat berjualan produknya.
Saya tanya anak itu, apakah dia malu untuk menjual di FB dan semacamnya, katanya tidak malu sama sekali. Lalu saya nasehati meskipun dari satu tas keuntungan cuma 20 ribu, kalau bisa menjual 100 tas dalam sebulan dia bisa mengantongi 2 juta. Tentu ini bukan tambahan uang saku lagi buat dia. Tapi memang tak semudah ngomong. Karena berdagang itu begitu dinamis. Tapi disitulah letak tawakalnya seorang pedagang. Dia berusaha menjual, tanpa tahu apakah ada yang mau membelinya. Jadi apakah pembaca masih malu untuk berjualan?
Wirausaha
Hobi
Circle Gallery
‹
›
Indonesiana
Islami
Family Time
Video
Tagged with: Wirausaha
About Unknown
WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments