Siapa yang tak sakit hati ketika orang tuanya dihina,
keluarganya direndahkan apalagi bukan cuma dengan kata, tapi juga dengan gambar
kartun yang tak pantas. Pikiran yang waras tentu tidak akan mendiamkan hal ini.
Tapi apa daya, jika tak mampu melakukan apapun, maka minimal rasa cinta ke
orang tua akan berubah menjadi rasa marah pada penghinanya.
Jika sikap kita terhadap keluarga dan orang tua saja bisa
seperti itu, bagaimana jika hal itu terjadi pada Nabi Muhammad SAW, setiap
muslim sejati pasti akan marah besar dengan hal ini. Terlepas dari keterbatasan
apa yang bisa dilakukan, marah itulah tanda cinta, pembelaan itulah yang
menjadi pembeda antara muslim dan munafik atau bahkan kafir.
Insiden di kantor majalah Charlie Hebdo yang ternyata bandel
dengan terus-terusan menghina Nabi Muhammad SAW. Menewaskan 12 orang termasuk
kartunis penghina Nabi. Maka saya hanya bisa berkata, “Alhamdulillah…” karena dari
kelompok muslim manapun Kouachi bersaudara yang melakukan itu, saya merasa Barat perlu
diberi pelajaran untuk menghargai agama Islam.
Persoalan tentang bagaimana muslim yang tinggal di negeri
kafir itu, sebenarnya tak perlu terlalu khawatir. Karena peristiwa 911 juga
ternyata bisa membuka hati orang-orang yang mendapat hidayah untuk segera
memeluk Islam. Lalu soal protesnya beberapa orang terkait perkembangan dakwah
di barat (Eropa), seharusnya mereka kembali menanyakan pada diri mereka, kenapa
mereka malah jadi membela para penghina Nabi. Membela karena menyalahkan yang
membela Nabi. Apakah karena takut jalan dakwah mereka tak semulus kemarin?
Apakah mereka lupa, sebelum insiden ini pun sebenarnya barat sudah alergi
dengan Islam.
Saya tidak ingin larut dalam teori konspirasi yang malah terkesan 'mendewakan' kemampuan Yahudi dan Barat untuk merekayasa suatu peristiwa. Seakan semua takdir di dunia ini mereka yang menentukan. Allah telah menetapkan bagi muslim setiap peristiwa ada hikmahnya. Tidak ada hari baik dan buruk bagi muslim. Karena kehidupan adalah ujian, dan kematian adalah akhir dari ujian itu. Dan jika saya lihat, efek dari teori konspirasi ini malah justru menanamkan stigma seakan Islam tidak mungkin seperti itu, Islam itu lembut. Dan ini bukan hal yang benar, karena Islam bisa lembut bisa juga keras.
Untuk itulah, yang ingin saya soroti di sini adalah bagaimana provokasi mereka terhadap muslim, dengan berlindung di balik hukum Perancis yang katanya memberikan hak dalam kebebasan berbicara atau freedom of speech.
Soal freedom of speech atau kebebasan berbicara ini pun
sebenarnya munafik (hipokrit). Karena sejatinya kebebasan di negeri kafir itu
hanya milik mereka. Diskriminasi terjadi, dan jangan harap ada toleransi
seperti yang ada di Indonesia. Menjadi minoritas, muslim di Perancis mengalami
banyak tekanan.
Saya mengajak anda untuk menolak lupa. Bagaimana freedom of
speech bisa membebaskan mereka untuk menghina Nabi Muhammad SAW, tetapi hukum yang
sama yang melindungi freedom of speech itu pula yang menyeret muslim ke ke
penjara hanya karena dia muslim. Perlu diingat, insiden ini adalah reaksi dari provokasi mereka sendiri.
Inilah wajah asli Perancis, sebuah negara pembela kebebasan
berbicara:
- Menghukum muslimah yang memakai niqab di publik.
- Menghukum muslimah yang mengajar dengan memakai hijab.
- Menghukum mereka yang melakukan protes untuk membela Palestina.
- Menghukum mereka yang mempublish kartun pro Nazi.
- Mengijinkan Charlie Hebdo memecat kartunisnya karena menggunakan hak ‘kebebasan berbicara’ untuk mengkritik anak Sarkozi yang menikahi wanita Yahudi.
Jadi, apakah sebenarnya freedom of speech dan arti kebebasan
bagi mereka? Sejatinya kita sekarang sedang melihat kaum hipokrit (munafik). Standar ganda dan kebohongan keluar dari mulut mereka. Tujuannya hanya satu, memadamkan cahaya Islam. Tapi meski mereka memiliki makar (rencana), maka makar Allah adalah yang pasti terjadi dan mengalahkan makar mereka. Lalu kita harus bagaimana? Bersabar, dan tetap kepada Islam kita berpihak. Jangan latah mengecam dan jangan pula merasa terancam. Ingat, sesama muslim itu bersaudara, sedangkan penghina Nabi itu, sama sekali tak layak kita bela.


No comments