Namaku Iwan. Umurku 35 tahun. Tetapi di dunia maya aku menggunakan fotoku ketika berumur 25 tahun. Aku suka terlihat muda. Meski aku tahu masa mudaku bukanlah masa-masa yang bisa untuk diceritakan dengan bangga.
Aku ingin menulis tentang pengalamanku membuka toko online
selama bertahun-tahun, tanpa pernah menikmati hasil yang sebenarnya. Bagiku
toko online ini hanya sekedar gengsi, aku tak pernah serius. Aku bahkan tak
pernah benar-benar serius mengerjakannya. Dan akan selalu jadi bisnis sampingan
yang tidak pernah benar-benar menghasilkan uang. Mungkin kamu bisa belajar
banyak dari pengalamanku ini.
Bisnis online yang selalu kubanggakan setiap kali ada
kesempatan ngobrol tentang aktivitas dagang online ku, masih timpang antara
pemasukan dan pengeluaran. Tidak seperti yang kuharapkan sebenarnya, tetapi aku
selalu omong besar. Seakan bisnis itu bisa memberiku penghasilan yang lumayan.
1. Membanggakan Omzet
Ketika ada omzet yang lumayan, akan kuceritakan seberapa
besar omzetku itu. Meski omzet itu sebenarnya tidak memberikan profit yang
layak.
Buatku, ketika aku bisa berfoto dengan paket yang hendak
kukirimkan, seakan itu adalah cerita sukses setiap hari. Dan bahkan aku ingin
sekali, seandainya punya kesempatan dan uang untuk berfoto mengenakan kaos dan
jas, seperti entrepreneur lainnya. Simbol kesuksesan.
2. Cuma Ingin Terlihat Keren
Semua itu tak membuatku semakin baik. Entrepeneurship yang
mungkin tidak benar-benar kupahami, resiko bisnis yang tak pernah benar-benar
kuhadapi, kesempatan yang tidak pernah benar-benar ingin kuambil. Semua cerita
tentang entrepreneur itu hanya sejauh yang aku dengar, katanya begini dan
begitu.
Aku hanya ingin dikenal sebagai orang yang punya bisnis
online, technopreneur atau online marketer, apapun itu yang saat itu terdengar
keren.
Gengsi untuk jadi karyawan, mendingan jadi bos untuk diri
sendiri. Meskipun aku sama sekali tidak bisa mendisiplinkan diri sendiri.
Menjadi bos untuk diri sendiri karena menggaji karyawan pun tak mampu.
Jangankan mampu menggaji karyawan, profit dari bisnis online pun tak mampu
untuk membayar internet dan makan setiap bulannya.
3. Merendahkan Profesi Lain
Bos adalah orang yang terlalu bodoh untuk diterima sebagai
karyawan, katanya. Tetapi seorang bos benar-benar memiliki perusahaan.
Sedangkan aku, seorang karyawan yang tidak bisa menerima perintah dari bos dan
berusaha melarikan diri dari kenyataan sebagai seorang karyawan. Menganggap
karyawan yang disuruh-suruh adalah pekerjaan yang hina. Lupa kalau setiap hari makan
dari gaji menjadi karyawan tersebut.
Pandangan merendahkan karyawan seperti itu, tak sadar
ternyata sebuah standar ganda. Di satu sisi, membenci bos karena kerjaannya
cuma bias suruh-suruh saja (menurutku). Tetapi di sisi lain, ingin menjadi bos yang
bisa memiliki banyak karyawan. Seakan aku ingin menjadi seseorang yang aku
benci.
Kalau begitu, sebenarnya di mana posisiku? Aku mengalami
kebingungan, jadi karyawan tak mau, jadi bos tak mampu. Mungkinkah aku bisa
menjadi seseorang yang sekarang pun aku tak suka menjadi karyawannya.
4. Meremehkan Pelanggan
Di sinilah aku, dengan toko online yang tak pernah
benar-benar aku maintain dengan baik.
Aku masih marah-marah ketika pelanggan menguji kesabaranku sebagai penjual.
Masih menghina mereka ketika mereka berusaha mendapatkan potongan harga dariku.
Padahal aku membutuhkan uang mereka. Aku masih membohongi mereka dengan
janji-janji muluk akan kondisi barang yang kujual, atau manfaat yang akan
mereka dapatkan ketika membeli dariku. Tetapi begitu mereka sudah membeli, aku
melupakan mereka. Dan aku akan mencari pelanggan baru, yang mau mentransfer
sebagian uangnya untuk sedikit mengisi rekeningku.
Aku segera melupakan mereka, ketika mereka sudah tidak lagi
jadi pembeli potensial. Bahkan aku tak berharap sama sekali mereka akan kembali
berbelanja ke toko online ku.
5. Penjual Gambar
Aku masih di sini, dengan toko online yang template webnya
seakan tidak pernah selesai. Dengan foto produk yang buruk. Hasil dari crop
gambar di toko online saingan. Membuang watermark sebisanya, dan mengklaim
kalau hasil foto hasil googling itu adalah foto produk milikku yang ready stok.
Padahal aku hanya dropshipper kecil. Stok barang pun aku tak mau, karena aku
tahu resikonya ketika barang tak laku. Aku tak ingin uangku hilang.
Dengan chat Whatsapp, BBM atau SMS, aku tak pernah berusaha dengan
baik melayani calon pelangganku. Aku hanya bisa berbohong kalau mereka akan
mendapatkan barang bagus dalam waktu yang cepat. Mereka tak akan pernah tahu
ketika mereka mentransfer uangnya, ketika itu baru aku kebingungan mencari
supplier yang bisa memberikan barang pesanan dalam waktu cepat. Ya, aku
dropshipper yang buruk, tidak bisa menyelesaikan transaksi dengan baik. Aku tak pernah berpikir apakah berjualan dengan cara
seperti ini, halal atau tidak. Foto dagangan milik orang lain saja aku anggap
halal.
Kalau foto produk, harga dan semuanya sudah meyakinkan. Aku
tetap merasa itu belum cukup. Belum cukup meyakinkan karena harus ada orang
yang memberikan testimoni atau kesaksian. Dan dengan caraku menjual barang,
kamu bisa menebaknya. Jika tidak ada yang menyampaikan keluhan, tentang kondisi
barang atau kecepatan pelayanan, maka aku benar-benar beruntung saat itu.
Seringkali chat keluhan itu tidak aku pedulikan, bila perlu aku blacklist atau
delete mereka dari daftar kontak. Etika menggunakan group untuk berdagang pun sering kulanggar.
6. Pelanggan Palsu
Testimoni palsu kubuat. Seakan-akan orang-orang yang sudah
membeli dariku sudah cukup puas. Bahkan ada yang sangat puas, skala 5 dari 5
bintang. Agar meyakinkan, aku memberikan tingkat puas yang paling rendah, harus
ada yang memberikan 3 dari 5 bintang. Aku tak peduli dengan cara untuk membuat testimoniyang alami.
Apalagi untuk website buatan sendiri, untuk website
marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak saja, aku bisa melakukan hal itu
dengan cara membuat akun palsu untuk jadi pembeli. Feedback positif akan
kudapatkan setelah transaksi selesai. Tak peduli dengan resikonya, yang penting
laris. Meski nyatanya, tidak banyak yang membeli dariku.
Bukan cuma testimoni palsu, aib barang yang kujual pun
kututupi. Membuat pembeli kecewa, karena kondisi barang tidak sesuai dengan apa
yang mereka harapkan. Kata-kata gimmick yang membuat mereka terdorong untuk
membeli dariku, jaminan yang tidak pernah bisa kujamin. Karena sebenarnya aku
terlalu takut untuk mengatakan Insyaa Allah. Takut calon pelanggan kabur.
Begitulah kira-kira perjalananku sebagai pebisnis online.
Toko online yang katanya ‘menghidupiku’ itu sekarang sudah mati. Aku tak lagi
mampu membiayai domain dan hostingnya. Aku terlalu takut untuk melakukan yang
benar, meski beresiko. Aku memilih berbohong ketimbang bersabar menunggu
pelanggan datang. Satu bisnis sepi, maka aku segera beralih ke bisnis lainnya.
Tak pernah benar-benar mencintai bisnisku, sehingga gampang beralih dari satu
bisnis ke bisnis yang lainnya. Yang penting online, karena mudah bagiku membuat
website online. Satu hal yang aku lupakan, bahwa website online, mungkin mudah
dibuat, orang bisa dibohongi, tapi kamu tidak akan pernah bisa mendatangkan
rejeki dengan jalan yang buruk dan merasa puas dengan hasilnya. Dan aku masih
tetap menjadi karyawan, pekerjaan yang aku benci tetapi masih bisa memberiku
makan. Tetapi aku sedang berusaha menjadi orang yang jujur.

No comments