Select Menu

Ads

Copyright Tajirwannabe.tk 2016. Powered by Blogger.

Wirausaha

Hobi

Circle Gallery

Indonesiana

Islami

Family Time

Video

» » Jangan Lakukan 6 Hal Ini di Bisnis Online Kamu!

Namaku Iwan. Umurku 35 tahun. Tetapi di dunia maya aku menggunakan fotoku ketika berumur 25 tahun. Aku suka terlihat muda. Meski aku tahu masa mudaku bukanlah masa-masa yang bisa untuk diceritakan dengan bangga.

Aku ingin menulis tentang pengalamanku membuka toko online selama bertahun-tahun, tanpa pernah menikmati hasil yang sebenarnya. Bagiku toko online ini hanya sekedar gengsi, aku tak pernah serius. Aku bahkan tak pernah benar-benar serius mengerjakannya. Dan akan selalu jadi bisnis sampingan yang tidak pernah benar-benar menghasilkan uang. Mungkin kamu bisa belajar banyak dari pengalamanku ini.

Bisnis online yang selalu kubanggakan setiap kali ada kesempatan ngobrol tentang aktivitas dagang online ku, masih timpang antara pemasukan dan pengeluaran. Tidak seperti yang kuharapkan sebenarnya, tetapi aku selalu omong besar. Seakan bisnis itu bisa memberiku penghasilan yang lumayan.

1. Membanggakan Omzet

Ketika ada omzet yang lumayan, akan kuceritakan seberapa besar omzetku itu. Meski omzet itu sebenarnya tidak memberikan profit yang layak.
Buatku, ketika aku bisa berfoto dengan paket yang hendak kukirimkan, seakan itu adalah cerita sukses setiap hari. Dan bahkan aku ingin sekali, seandainya punya kesempatan dan uang untuk berfoto mengenakan kaos dan jas, seperti entrepreneur lainnya. Simbol kesuksesan.

2. Cuma Ingin Terlihat Keren

Semua itu tak membuatku semakin baik. Entrepeneurship yang mungkin tidak benar-benar kupahami, resiko bisnis yang tak pernah benar-benar kuhadapi, kesempatan yang tidak pernah benar-benar ingin kuambil. Semua cerita tentang entrepreneur itu hanya sejauh yang aku dengar, katanya begini dan begitu.

Aku hanya ingin dikenal sebagai orang yang punya bisnis online, technopreneur atau online marketer, apapun itu yang saat itu terdengar keren.

Gengsi untuk jadi karyawan, mendingan jadi bos untuk diri sendiri. Meskipun aku sama sekali tidak bisa mendisiplinkan diri sendiri. Menjadi bos untuk diri sendiri karena menggaji karyawan pun tak mampu. Jangankan mampu menggaji karyawan, profit dari bisnis online pun tak mampu untuk membayar internet dan makan setiap bulannya.

3. Merendahkan Profesi Lain

Bos adalah orang yang terlalu bodoh untuk diterima sebagai karyawan, katanya. Tetapi seorang bos benar-benar memiliki perusahaan. Sedangkan aku, seorang karyawan yang tidak bisa menerima perintah dari bos dan berusaha melarikan diri dari kenyataan sebagai seorang karyawan. Menganggap karyawan yang disuruh-suruh adalah pekerjaan yang hina. Lupa kalau setiap hari makan dari gaji  menjadi karyawan tersebut.

Pandangan merendahkan karyawan seperti itu, tak sadar ternyata sebuah standar ganda. Di satu sisi, membenci bos karena kerjaannya cuma bias suruh-suruh saja (menurutku). Tetapi di sisi lain, ingin menjadi bos yang bisa memiliki banyak karyawan. Seakan aku ingin menjadi seseorang yang aku benci.

Kalau begitu, sebenarnya di mana posisiku? Aku mengalami kebingungan, jadi karyawan tak mau, jadi bos tak mampu. Mungkinkah aku bisa menjadi seseorang yang sekarang pun aku tak suka menjadi karyawannya.

4. Meremehkan Pelanggan

Di sinilah aku, dengan toko online yang tak pernah benar-benar aku maintain dengan baik. Aku masih marah-marah ketika pelanggan menguji kesabaranku sebagai penjual. Masih menghina mereka ketika mereka berusaha mendapatkan potongan harga dariku. Padahal aku membutuhkan uang mereka. Aku masih membohongi mereka dengan janji-janji muluk akan kondisi barang yang kujual, atau manfaat yang akan mereka dapatkan ketika membeli dariku. Tetapi begitu mereka sudah membeli, aku melupakan mereka. Dan aku akan mencari pelanggan baru, yang mau mentransfer sebagian uangnya untuk sedikit mengisi rekeningku.

Aku segera melupakan mereka, ketika mereka sudah tidak lagi jadi pembeli potensial. Bahkan aku tak berharap sama sekali mereka akan kembali berbelanja ke toko online ku.

5. Penjual Gambar

Aku masih di sini, dengan toko online yang template webnya seakan tidak pernah selesai. Dengan foto produk yang buruk. Hasil dari crop gambar di toko online saingan. Membuang watermark sebisanya, dan mengklaim kalau hasil foto hasil googling itu adalah foto produk milikku yang ready stok. Padahal aku hanya dropshipper kecil. Stok barang pun aku tak mau, karena aku tahu resikonya ketika barang tak laku. Aku tak ingin uangku hilang.

Dengan chat Whatsapp, BBM atau SMS, aku tak pernah berusaha dengan baik melayani calon pelangganku. Aku hanya bisa berbohong kalau mereka akan mendapatkan barang bagus dalam waktu yang cepat. Mereka tak akan pernah tahu ketika mereka mentransfer uangnya, ketika itu baru aku kebingungan mencari supplier yang bisa memberikan barang pesanan dalam waktu cepat. Ya, aku dropshipper yang buruk, tidak bisa menyelesaikan transaksi dengan baik. Aku tak pernah berpikir apakah berjualan dengan cara seperti ini, halal atau tidak. Foto dagangan milik orang lain saja aku anggap halal.

Kalau foto produk, harga dan semuanya sudah meyakinkan. Aku tetap merasa itu belum cukup. Belum cukup meyakinkan karena harus ada orang yang memberikan testimoni atau kesaksian. Dan dengan caraku menjual barang, kamu bisa menebaknya. Jika tidak ada yang menyampaikan keluhan, tentang kondisi barang atau kecepatan pelayanan, maka aku benar-benar beruntung saat itu. Seringkali chat keluhan itu tidak aku pedulikan, bila perlu aku blacklist atau delete mereka dari daftar kontak. Etika menggunakan group untuk berdagang pun sering kulanggar.

6. Pelanggan Palsu

Testimoni palsu kubuat. Seakan-akan orang-orang yang sudah membeli dariku sudah cukup puas. Bahkan ada yang sangat puas, skala 5 dari 5 bintang. Agar meyakinkan, aku memberikan tingkat puas yang paling rendah, harus ada yang memberikan 3 dari 5 bintang. Aku tak peduli dengan cara untuk membuat testimoniyang alami.

Apalagi untuk website buatan sendiri, untuk website marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak saja, aku bisa melakukan hal itu dengan cara membuat akun palsu untuk jadi pembeli. Feedback positif akan kudapatkan setelah transaksi selesai. Tak peduli dengan resikonya, yang penting laris. Meski nyatanya, tidak banyak yang membeli dariku.

Bukan cuma testimoni palsu, aib barang yang kujual pun kututupi. Membuat pembeli kecewa, karena kondisi barang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Kata-kata gimmick yang membuat mereka terdorong untuk membeli dariku, jaminan yang tidak pernah bisa kujamin. Karena sebenarnya aku terlalu takut untuk mengatakan Insyaa Allah. Takut calon pelanggan kabur.


Begitulah kira-kira perjalananku sebagai pebisnis online. Toko online yang katanya ‘menghidupiku’ itu sekarang sudah mati. Aku tak lagi mampu membiayai domain dan hostingnya. Aku terlalu takut untuk melakukan yang benar, meski beresiko. Aku memilih berbohong ketimbang bersabar menunggu pelanggan datang. Satu bisnis sepi, maka aku segera beralih ke bisnis lainnya. Tak pernah benar-benar mencintai bisnisku, sehingga gampang beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lainnya. Yang penting online, karena mudah bagiku membuat website online. Satu hal yang aku lupakan, bahwa website online, mungkin mudah dibuat, orang bisa dibohongi, tapi kamu tidak akan pernah bisa mendatangkan rejeki dengan jalan yang buruk dan merasa puas dengan hasilnya. Dan aku masih tetap menjadi karyawan, pekerjaan yang aku benci tetapi masih bisa memberiku makan. Tetapi aku sedang berusaha menjadi orang yang jujur.

About Unknown

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply