Select Menu

Ads

Copyright Tajirwannabe.tk 2016. Powered by Blogger.

Wirausaha

Hobi

Circle Gallery

Indonesiana

Islami

Family Time

Video

» » Pahit dan Manisnya Bisnis Online

Kali ini Tajirwan (sebutan baru untuk saya di blog ini hehehe) mau bahas tentang pahit dan manisnya bisnis online. Perlu digarisbawahi istilah bisnis online di sini Tajirwan persempit jadi berdagang online. Setelah 'nganggur' sejak bulan Agustus 2014 kemarin, saya lebih banyak di dalam rumah daripada di luar rumah. Mungkin tetangga juga bingung, kenapa saya gak cari kerjaan lain aja. Sebenernya bisnis apa sih? kok sampai nekat resign.


Sebelum membahas pahit dan manisnya bisnis online, saya ingin berbagi situasi di home office ketika ini di tulis. Depok sore ini dirundung mendung, dalam arti yang sebenarnya. Langit sudah begitu gelap, suara petir juga sudah bergemuruh. Tapi sepertinya awan hujan belum sampai di Tanah Baru ini. Alhamdulillah, cuaca seperti apapun di sini masih termasuk nyaman. Panas tak terlalu panas, dingin juga tak terlalu dingin. Untuk masalah banjir yang jadi momok di musim penghujan ini juga alhamdulillah aman. Beda dengan kantor dulu, kalau cuaca seperti ini, meski aman dan bahkan kadang petir saja tak terdengar dari dalam kantor, tapi harus melihat situasi jalanan setelah hujan, banjir atau tidak, macet atau tidak, dan berakhir dengan kesimpulan mending langsung pulang atau tidak. Oke mari kita bahas pahitnya bisnis online dulu...siap?

Buta Harga Pasar

Bisnis online saya sekarang, penuh dengan hal-hal yang pahit. Salah satu hal yang pahit misalnya ketika barang yang dibeli ternyata terlalu mahal. Karena masih jadi reseller kecil, saya tidak punya supplier tetap. Barang saya ambil dari siapa saja yang menawarkan. Dan kebetulan waktu itu ada penjual yang notabene dia adalah kolektor. Rupanya kejujuran saya dimanfaatkan, untuk barang yang harusnya dijual seharga 75-100 ribu, harus saya tebus dengan harga 25 ribu lebih mahal. Tapi tak mengapa lah, pelajaran yang luar biasa untuk saya agar tak terlalu 'buas' dalam mengambil barang.

Oiya, mungkin perlu pembaca ketahui kalau saya memang baru menggeluti dunia mainan, khususnya action figure transformer memang baru-baru ini. Dan survey harga seharusnya dilakukan sebelum terjun di bidang apapun.

Perkiraan Ongkir Meleset

Hal pahit lainnya dalam bisnis online ini, karena melibatkan pihak ketiga yaitu jasa ekspedisi. Mereka punya tarif ongkos kirim yang tidak bisa diganggu gugat. Saya pernah mengirim ke Jogja, dengan estimasi yang keliru karena ternyata alamatnya berada di pinggiran Jogja dan tarifnya sedikit lebih mahal. Itu masih mending, saya pernah mengukur volume paket yang saya kirim dan memperhitungkan kena 2 kg, tapi ternyata begitu diukur di jasa ekspedisi kena volume 3 kg. Nombok deh. Meski saya pernah minta ongkos kirim ditambah ke buyer, tapi hal ini cuma sekali saya lakukan. Amat sangat tidak enak jika kita salah memperkirakan ongkos kirim karena tidak teliti dengan berat, volume paket atau alamat pembeli. Dan nombok adalah servis, yang tidak terlihat. Pernah nombok?

Banyak saya jumpai seller di FB yang mengeluhkan ongkos kirim yang kurang, karena alamat pembeli yang tidak detail. Saya kurang setuju, karena hal itu sepenuhnya kesalahan seller. Seller harusnya benar-benar teliti terhadap alamat buyer dan berat barang yang akan dikirimnya. Lucunya malah dikeluhkan di FB. Bahkan di JNE Margonda, saya pernah menjumpai orang yang tak jadi kirim paket karena ongkos kirim melebihi perkiraannya dan saya dengar bisik-bisik dia dan temannya katanya harus minta tambahan ongkir dulu ke pembeli.

Ditawar Sadis

Pernah mengalami sepinya penjualan, lalu tiba-tiba ada sms masuk menanyakan harga dan ongkos kirim untuk beberapa item yang dijual? Ibarat hujan di musim kemarau, atau segarnya es buah di tengah teriknya matahari. Tapi rupanya itu hanya nikmat sesaat, karena setelah kita beritahu harga dan perkiraan ongkir, calon pembeli menawar dengan harga yang tepat atau malah tak jarang di bawah harga modal kita. Bisa memang segitu kemampuan atau daya belinya, dan akhirnya hujan hanya menyisakan genangan dan es buah yang kita nikmati terlalu terburu-buru itu membuat kita tersedak. Tak enak...

Mungkin ini bukanlah hal yang pahit, tapi memang sering terjadi ketika kebutuhan pembeli dan penjual tidak bisa bertemu. Tapi perlu diingat, selama kita sebagai penjual tidak melakukan deal, kerugian bisa dihindari. Bahkan anggap saja ini sebagai ujian gratis untuk meningkatkan kemampuan kita dalam bernegosiasi tanpa membuat calon pembeli tidak nyaman.

Nah, pahitnya sedikit saja dulu ya...sekarang kita beralih ke manisnya bisnis online...

Waktu Fleksibel

Waktu yang fleksibel, ini bisa dianggap sebagai hal yang manis. Karena saya bisa saja melakukan negosiasi harga sambil bermain dengan si kecil. Tak jarang, saya harus telat balas BBM pelanggan karena si kecil maunya main game di HP saya. Kesel? kadang-kadang, tapi overall menyenangkan dan bakal jadi hal yang ngangeni.

Disamping itu, pagi-pagi di saat yang lain sudah bersiap-siap ke kantor. Saya seringkali masih bermain dengan si kecil. Atau cuma sekedar menemaninya minum susu sambil nonton video perakitan truk unimog favoritnya.

Singkatnya, waktu sepenuhnya ada dalam kendali kita. Mau dibuat efektif dan efisien, itu terserah kita sendiri. Waktu luang inilah yang kadang membuat iri karyawan kantoran. Meski dibalik ini, sebenarnya ada banyak pahitnya, karena penghasilan tidak tetap bisa jadi lebih atau bisa jadi kurang daripada yang berpenghasilan tetap.

Merasakan Arti Tawakal yang Sebenarnya

Jika pembaca merasa sudah bisa tawakal dengan Ar Razzaq, coba dulu jadi pedagang. Anda akan merasakan bagaimana jika sudah berusaha dan merasa maksimal, tapi ternyata tidak ada pembeli yang datang sama sekali. Tetapi keesokan harinya, ketika anda merasa tidak bakal ada yang beli karena tidak berusaha maksimal, eh ternyata ada orang yang beli tanpa nawar pula. Cuma pedagang yang bisa merasakan hal ini. Inilah kenapa kalau pedagang ditanya, sehari dapat berapa? Biasanya mereka mengatakan "gak mesti mas, kadang rame kadang sepi..." atau semacamnya.

Berdagang, bagi saya simpel saja. Menyampaikan apa yang kita tahu tentang barang yang kita jual. Jika barangnya bagus, bilang bagus jika ada minus atau cacat ya sebaiknya jangan ditutupi. Karena reputasi jauh lebih penting ketimbang keuntungan. Rugi bisa sekali didapat, tetapi masih bisa tertutupi dengan keuntungan lainnya. Tetapi sekali reputasi hancur karena menipu misalnya, siapa sih orang yang mau beli lagi ke kita? Jadi sampaikan saja apa adanya, soal nanti rejeki kita datang lewat calon pembeli itu atau tidak, terserah Allah saja. Ilmu atau jurus marketing boleh diterapkan, tapi jangan menyerempet yang tipu-tipu, takut keberkahan dari berdagang itu hilang.

Berkat dagang, anda akan tahu seberapa besar rejeki anda, sebenarnya sudah ditakar. Karena terkadang rejeki yang datang bukan dalam bentuk uang. Kesehatan juga termasuk lho, jangan lupa.

Cara Mengumpulkan Uang Tercepat

Jangan lupa, jika anda membutuhkan uang maka jalan tercepat untuk mengumpulkannya adalah dengan jalan dagang. Berjualan apapun selama itu halal, bisa mempercepat uang yang dicari terkumpul. Siapa sih yang bisa beli dengan harga murah, lalu menjualnya dengan mendapatkan keuntungan? Ya pedagang. Kalau karyawan harus menunggu sebulan sekali, maka berdagang bisa dalam seminggu sekali mengumpulkan uang. Terdengar gampang ya? Tentu saja ini ada seninya, tapi secara umum sense of trading anda akan terasah seiring waktu anda berdagang. Bahkan jika ada barang yang sepertinya tidak akan laku, sebenarnya barang itu hanya belum bertemu jodohnya. Saya pernah menjual barang yang butuh waktu 2 bulan untuk laku. Sempat putus asa, tapi ternyata barangnya laku juga.

Yang perlu hati-hati adalah bagaimana mengatur keuangan dalam berdagang ini. Yang berusaha saya terapkan adalah setiap kali ada hasil dari dagang, dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk makan, satu bagian lagi untuk menambah modal, dan satu bagian lagi untuk sedekah. Sayangnya hasil dua bulan pertama berjualan saya gunakan untuk bayar cicilan rumah bulan Februari 2015. Tapi mudah-mudahan saya bisa menerapkannya bulan ini.

Itu sebagian dari pahit dan manisnya berdagang, pembaca berminat? Yang perlu diyakini dalam hal ini adalah rejeki kita jaaauuuh lebih paham kapan dan dimana harus bertemu dengan kita, daripada kita sendiri. Soal rejeki serahkan saja pada Allah, kita cuma berusaha. Soal senang atau susahnya dagang, itu yang akan menambah experience kita. Dan perlu diingat, ketika jadi karyawan pun, perusahaan membayar kita dari hasil menjual jasa atau barangnya. Jadi perusahaan pun melakukan aktivitas perniagaan. Lalu apakah kita masih mempermasalahkan profesi pedagang?



About Unknown

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply